Mengintip Goa Karst Godawang

Miftah Ayatussurur merayap memasuki lorong sempit berdiameter 50 cm. Menggunakan helmet plastik di kepala, penelusur goa dari organisasi Pecinta Alam LAWALATA IPB itu terus bergerak maju memasuki goa Sipahang. Rendaman sungai bawah tanah yang bercampur lumpur membuat cover all (pakaian khusus untuk caving) yang dia pakai kotor. Di bagian goa yang lebih lebar, Miftah sesekali membuka sepatu botnya yang terisi air.

Goa Sipahang memang dialiri sungai kecil di sepanjang goa. Di beberapa titik, dapat ditemukan genangan-genangan dengan kedalaman beragam. Mulai dari semata kaki sampai setinggi leher orang dewasa. Selain itu, ditemukan juga batuan hasil karstifikasi karena tetesan air dari langit-langit goa. Proses kartifikasi itu, disebut Miftah, bisa berlangsung ratusan tahun.

Sipahang bisa dikatakan sebagai goa paling alami dari tiga goa yang masuk dalam kawasan wisata alam Godawang, Jasinga, Bogor seluas 2,7 hektare. Dua goa lain, Simenteng dan Simasigit, sudah dirancang menjadi goa wisata. Di Simenteng dan Simasigit, pengelola dari Dinas Pariwisata Kabupaten Bogor telah memasang pncahayaan. Di mulut goa pun telah dipasangi tangga untuk memudahkan pengunjung menikmati panorama goa.

Namun, Sipahang memang dibiarkan lebih alami. Biasanya, pengunjung yang masuk ke goa berkedalaman 600 meter itu pun hanya pengunjung dengan minat khusus. Seperti Miftah dan rekan-rekan dia dari LAWALATA IPB yang memang serius menekuni kegiatan telusur goa. Tujuannya, lebih ke pemetaan dan observasi keanekaragaman fauna goa.

Jika beruntung, pengunjung bisa mnyaksikan beberapa jenis satwa yang ada di Sipahang. Ada ikan lele di aliran air, jangkrik di dinding goa dan kelelawar di langit-langit goa. Miftah menduga, jangkrik dan lele yang ada di Sipahang bukan fauna asli goa. Akan tetapi, satwa yang masuk dari daerah permukaan.

Sementara itu, untuk fauna di kawasan goa karst, disebut peneliti dari Badan Zoologi, Pusat Penelitian Biologi LIPI Yayuk R Suhardjono cukup beragam. Untuk habitatnya dibagi ke tiga kelompok yakni daratan (terestrial), perairan (akuatik) dan Guano (tumpukan kotoran kelelawar atau walet).

Di bagaian terestrial bisa ditemukan laba-laba, jangkrik, tikus, ular, kelelawar, dan burung walet. Untuk habitat akuatik hidup ikan, udang, moluska, dan plankton. Sementara di Guano teradapat kehidupan hewan yang lebih kecil seperti tungau, ngengat, kecoa, kumbang, dan lalat. Namun, satu fauna yang menarik adalah kelelawar.

Dalam presentasinya di Scientific Karst Eksploration (SKE) ke-2 yang diadakan LAWALATA, Yayuk menyebut, kelelawar berperan penting dalam mengendalikan hama pertanian. Dengan menjadi pemangsa bagi serangga hama seperti wereng, secara tidak langsung, kelelawar dapat membantu petani mengurangi insectisida.

Sementara itu, Dr.Ir.Arzyana Sunkar M.Sc dari Departemen Sumber Daya Hutan dan Ekowisata IPB menyebut, fauna goa merupakan fauna yang unik. Dia menyebut, dalam beberapa penelitian tentang fauna goa, menunjukkan, bahwa goa merupakan habitat dengan endemisme tinggi. Alasannya, suhu dan kelembaban di dalam goa yang cenderung stabil. “Suhunya tidak berubah karena sirkulasi di dalam goa kan tidak baik,” katanya kepada saya di Fakultas Kehutanan IPB.

Selain itu, di goa yang sama sekali tidak tersentuh cahaya matahari, faunanya bisa semakin unik. Sebut saja ikan atau udah dengan warna kulit yang transparan. “True cave fauna itu bisa ditemukan di goa dengan tingkat kegelapan abadi,” katanya. “ Bahkan pernah ditemukan, fauna yang umurnya sampai seratus tahun. Itu karena metabolisme di goa dalam berjalan lambat,” jelasnya.

Sementara itu, arti penting krst untuk umat manusia, disebut Arzyana Sunkar, lebih kepada penyedia kebutuhan air. Dia menyebut, kawasan karst menyumbang 25 persen kebutuhan air tawar manusia di dunia. “Fungsi paling terasa dari karst penyedia air. Karst itu semacam tangki air raksasa,” katanya.

Menurut dia, kemampuan menampung air itu dikarenakan sifat batu gamping yang cenderung menyerap air. Jika alirannya keluar dari kawasan batu gamping akan menjadi sungai permukaan, Sedangkan, jika airnya terpendam, cenderung akan memunculkan mata air. “Jadi itulah kenapa di kawasan karst banyak mata airnya,” katanya. “Kelihatannya kering karena Karst Meloloskan air seperti spons. Tapi airnya menumpuk di dalam,” jelasnya.

Sementara itu, ketika ditanya mengenai efek, jika kawasan karst rusak, Arzyana Sunkar menyebut, akan berdampak langsung pada ketersediaan air. Bukan hanya dari segi kuantitas, namun kualitas air di kawasan karst. Alasannya, kawasan karst juga berfungsi seperti saringan air. Sehingga kondisi air yang tertampung di kawasan karst memang biasanya lebih bersih. “Selain itu, kalau airnya nggak ada tampungan, bisa main lewat aja dan jadi sebabkan banjir,” katanya.

Dalam pengamatan dia, beberapa kawasan karst di Indonesia sebenarnya berpotensi berujung pada kerusakan. Alasannya, pemanfaatan langsung dari kawsan karst juga dibutuhkan untuk bahan baku industri semen. Padahal, tidak semua karst itu cocok dijadikan sebagai bahan baku semen. Sayangnya, seringkali karst yang bahannya cocok untuk semen ditemukan di kawasan yang sistem hidrologinya bagus. “Jadi kalau itu dirusak, fungsi hidrologinya jadi kacau. Air jelas jadi berkurang. Karena yang nyimpan airnya sudah nggak ada,” katanya.

Untuk peta kawasan kerusakan karst, Arzyana tidak mengaku tidak memiliki datanya. Namun, menurut dia, di setiap kawasan karst yang dekat dengan pabrik semen, sudah bisa diprediksi akan mengalami kerusakan. Dia menyebut, dua tempat yakni gunung Sewu, Jawa Tengah dan Gajamandala, Padalarang, Jawa Barat. “Kalau kita lewat kan kelihatan kosong dan bukitnya terbelah,” katanya. “Kalau bukit karstnya sudah kelihatan putih, berarti itu ada penggerusan,” sambungnya.

Arzyana menyebut, sebenarnya sudah banyak peraturan dari pemerintah terkait perlindungan kawasan karst. Namun, adanya perbedaan sudut pandang antara lembaga pemerintah membuat peraturan tersebut tidak berjalan baik. “Kementerian Kehutanan, KLH (Kementerian Lingkungan Hidup) dan kementerian terkait yang lain kacamatanya berbeda,” kata dia.

Untuk solusi, dia juga menyebut, masih sangat dilematis. Penetapan perlindungan kawasan bentang alam karst pun tidak bisa diterapkan pada semua kawasan. Alasannya, karena kebutuhan masyarakat akan batu gamping juga masih tinggi. “Undang-undang sebut untuk kesejahteraan rakyat, jadi tidak mungkin semua kawasan bisa dilindungi,” katanya.

Yang paling memungkinkan adalah adanya prioritas kawasan. Terumatam yang punya sistem ketersediaan air dan keanekaragaman hayati yang unik. Sedangkan untuk kawsan karst yang cadangan airnya tidak besar bisa dikesampingkan. “Namun, alasan air yang paling bisa diterima,” katanya.

Senada dengan Arzyana Sunkar, Anggota Komisi Karst dari International Association of Hidrogeologist Dr. Eko Haryono menyebut, Karst itu mengandung sumber daya mineral yakni batu gamping sebagai bahan baku semen. Di luar itu, karst mengandung satu fenomena yang unik karena lebih peka dari ekosistem lain. Tapi yang paling umum, karst itu merupakan penampung air.

Hampir semua mata air besar munculnya di kawasan karst. Karena sifatnya air tanah itu terkonsentrasi di sungai bawah tanah sehingga munculnya selalu dengan debit yang sangat besar

Dari sisi potensi keunikan bentuk bentang alamnya, itu sangat bervariasi baik di atas atau bawah permukaan. Di permukaan bentuknya seperti ngarai. Ini kan menjadi potensi utama (selain air). Pengembangannya untuk wisata sangat potensial karena keunikan bentuknya itu. “Di dunia, ada sekitar 48 warisan dunia ada di kawasan Karst,” katanya. “Kalau di Indonesia, seperti di Gunung Kidul, lokasi goa itu terkenal yakni goa pindul. Sebulan bisa dapat dua miliar dan dikelola masyarakat,” contohnya.

Sementara itu, terkait penambangan kawasan karst untuk kepentingan industri semen, disebut Eko memang marak terjadi di Indonesia. Dia mencontohkan, seperti di Gunung Sewu sudah ada pertambangan, Tuban, Rembang dan Pati, lalu Gombong juga sudah ada aktivitas pertambangan. “Ketika sudah ada pertambangan, berarti sudah berpotensi pada kerusakan,” ucapnya.

Tapi sebenarnya masih banyak yang belum ditambang dan belum tersentuh. Eko menyebut, dari 33 provinsi di Indonesia, hanya tiga provinsi yang tidak memiliki kawasan karst yakni Porvinsi Riau, Kepulauan Riau dan Bangka Belitung.

Fungsi lain dari kawasan karst adalah perannya sebagai regulator iklim yang berkaitan dengan karbon. Yakni pada metode pembakaran yang biasa dilakukan perusahaan semen ataupun masyarakat dalam proses produksi batu gamping. Pembakaran ini kan mengeluarkan CO2 (karbondioksida) yang tentu saja berdampak pada efek rumah kaca. Bahasa sederhananya, pemanfaatan batu gamping yang dibakar kan berefek langsung pada gas rumah kaca. “Efeknya lebih besar dari asap transportasi,” katanya

Sebaliknya, proses karstifikasi yang menggunakan CO2, membuat ekosistem karst punya aspek penting. Konteksnya untuk mitigasi perubahan iklim melalui pengurangan CO2 di atmosfer. “Jadi kalau kita bisa menjaga keberadaan Karst, itu membantu mengurangi keberadaan CO2 di atmosfer,” katanya.

Sementara itu, berbicara contoh kasus kerusakan kawasan karst, Eko menyebut, gunung Sewu. Menurut dia, aktivitas pertambangan dan pembangunan di gunung sewu berakibat pada debit air di telaga-telaga di sekitarnya. Dulu, sepanjang tahun airnya ada. Tapi, saat ini, kurang dari seperempat dari keseluruhan telaga di Gunung Sewu yang masih berair. “Belum lagi, mata air yang sudah mulai kering,” katanya.

Berbicara soal pentapan kawasan bentang alam, Ir Andiani MT dari Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumberdaya Mineral menyebut, penetapan Kawasan Bentang Alam Karst bertujuan untuk melindungi kawasan karst agar tetap berfungsi sebagai tata air.

Sementara untuk pengawasannya, dia menyebut, lembaganya tidak mampu untuk mengawasi seluruh kawasan bentang alam kars di Indonesia. Menurut dia, adanya otonomi daerah membuat sistem pengawasan seharusnya berjalan lebih baik. “Yang harusnya aktif melakuka pengawasan adalah teman-teman di pemda (pemerintah daerah),” katanya pada Rabu di IPB Bogor pada Rabu 18 September. “Badan Geologi lakukan juga pengawasan, tapi nggak mungkin seluruh Indonesia kita kunjungi,” sambungnya.

Sementara itu, terkait masalah pemberian izin pertambangan batu gamping, menurut, Andiani, cukup diawasi dan diseleksi cukup ketat oleh pemerintah daerah. “Terutama teman-teman pemda di pulau Jawa, rutin lakukan konsultasi dengan kami,” katanya.

Dia juga menyampaikan, penetapan kawasan bentang alam karst di Jawa Tengah sedang mengarah pada penetapan Gunung Sewu. Selain itu, untuk kawasan Gombong juga tengah berada dalam proses. “Tapi kita tetap tunggu laporan dari daerah,” katanya. “Sesuai Permen ESDM No 17 tahun 2012, daerah lah yang harus buat usulan,” jelasnya. “Ini otonomi daerah dan tidak bisa semua diatur di pusat,” tutupnya.

Penulis : ENOS

 

GET THE BEST DEALS IN YOUR INBOX

Don't worry we don't spam

We will be happy to hear your thoughts

Leave a reply

Reset Password
Compare items
  • Total (0)
Compare
0