Gua Pindul, Wisata Gua dan Sungai Sekaligus

Jika berwisata atau liburan ke Gunungkidul, Yogyakarta, masukkan susur sungai (tubing) Gua Pindul ke dalam daftar tempat yang akan dikunjungi. Berbeda dengan wisata sungai lainnya, sungai yang ada di Gua Pindul memiliki arus tenang dan jalur yang pendek, jelas tidak cocok diarungi dengan perahu karet yang biasa digunakan untuk arung jeram. Di sungai ini, pengunjung hanya memerlukan ban dalam berukuran sedang atau besar yang diberi tali bersilang sebagai tempat duduk dan pelampung untuk menyusuri sungai, biasa disebut cave tubing.

Objek wisata ini berupa perjalanan memasuki dan menyusuri gua. Namun karena dasar gua berupa aliran sungai, maka untuk menjelajahinya memerlukan ban dalam dan pelampung. Bagi yang ingin membawa ponsel untuk memotret aktivitas penyusuran gua, dapat menggunakan pelindung ponsel yang banyak dijual di sekitar gua.

Gua Pindul

Foto: ( Pinterest )

Setelah pengunjung siap, pemandu akan menuruni sungai terlebih dahulu. Kemudian ia akan mempersilakan wisatawan turun menggunakan ban dalamnya satu per satu.

Agar tidak tersesat di dalam gua yang gelap, dan tidak terpencar sesama wisatawan, pemandu akan meminta setiap peserta saling berpegangan dan membuat barisan mengapung di atas air.

Penyusuran dimulai dari mulut gua. Aliran sungai yang tenang dan berwarna kecokelatan mendorong pengunjung memasuki sungai. Namun jika ingin lebih cepat, wisatawan dapat mendayung menggunakan tangannya.

Cahaya dari Celah yang Memesona

Memasuki gua, wisatawan akan mulai melihat dinding gua yang terkena sinar dari luar, stalaktit dan stalagmit mulai terlihat. Namun, setelah memasuki lebih dalam suasana gelap tanpa cahaya membuat wisatawan tak dapat melihat apa pun. Suara akan menggema terpantulkan dinding gua. Meski suara sudah direndahkan, tetap terdengar lebih keras akibat gema. Sesekali kelelawar terdengar dan bayangannya terlihat di atas dinding. Bagi yang membawa senter atau ponsel, dapat melihat kelelawar dengan menyorotkan sinarnya ke dinding atas gua.

Panjang gua sendiri 350meter dan lebar sekitar lima meter. Di tengah penyusuran, wisatawan akan menemukan sebuah lubang besar di atap gua yang membuat sinar matahari masuk. Lokasi ini sangat cocok untuk diabadikan. Cahaya yang masuk dan memantul di air serta dinding gua yang berkarakter akan membuat hasil gambar yang indah dan menakjubkan. Terkadang ada juga yang berhenti dan turun dari ban pelampung ke dinding gua, lalu melompat ke sungai sambil berteriak. Momen ini menjadi favorit banyak wisatawan.

Cahaya dari Atas yang Memesona Foto: ( Pinterest/Ita Gemasih )

Gua Pindul yang terdapat di Desa Bejiharjo yang memiliki kawasan perbukitan karst dan dominan bebatuan. Ada legenda sendiri mengenai penamaan Gua Pindul yang sudah dipercayai masyarakat secara turun-temurun. Nama gua ini diambil dari kisah perjalanan Joko Singlulung yang mencari ayahnya. Ia menelusuri hutan belantara dan menelusuri tujuh gua yang memiliki aliran air di bawahnya. Sampai akhirnya ia menemukan sebuah gua. Saat sedang menelusuri aliran sungai di bawah gua, kepala Joko Singlulung terbentur batu berukuran besar. Dalam Bahasa Jawa, terbentur disebut gebendul. Lama-kelamaan aksen tersebut meluruh menjadi pindul,  sehingga dinamakanlah Gua Pindul.

Perjalanan penyusuran dilanjutkan dengan memasuki lorong gua yang gelap lagi, sampai akhirnya tiba di ujung gua dan penyusuran selesai. Meski jalurnya pendek, pada musim libur tempat ini ramai dan padat pengunjung. Bahkan antirannya bisa sangat panjang.[]

GET THE BEST DEALS IN YOUR INBOX

Don't worry we don't spam

We will be happy to hear your thoughts

Leave a reply

Reset Password
Compare items
  • Total (0)
Compare
0